MACAM-MACAM NAJIS

a) Mukhoffafah (najis ringan)
Seperti najis kencingnya anak bayi laki-laki yang belum makan selain air susu ibunya (selain obat) dan umurnya belum genap 2 tahun. Maka cara menyucikannya cukup dipercikkan air sampai rata
b) Mutawasithoh (najis sedang)
Yaitu semua najis selain yang tersebut di atas, dan najis ini di bagi menjadi 2 macam:
Najis yang ada aniyahnya (bekas) yang mempunyai warna, bau atau rasa, maka cara menyucikannya harus dihilangkan bekasnya lalu disiram dengan air secara merata.
Najis yang tidak berbekas (hukmiyah) yaitu tidak ada warna, bau atau rasa, maka cara menyucikannya cukup dengan menyiramya dengan air secara merata.
c) Mughaladoh (najis yang berat)
Seperti najisnya babi atau anjing atau anak dari salah satu diantaranya, dalam keadaan basah atau kering, maka cara membasuhnya dengan terlebih dahulu menghilangkan bekasnya lalu dibasuh dengan air 7 kali dan debu (bisa air dulu 5 kali, lalu debu, lalu air lagi 1 kali atau air dicampur dengan debu dan dibasuh 7 kali).

  1. Benda-benda najis
    a) Anjing : najis, kecuali Mazhab Maliki yang berkata: bejana yang di basuh 7 kali jika terkena jilatan anjing bukanlah karena najis melainkan karena ta’abbud (beribadat). Syafi’i dan Hambali berkata: bejana yang terkena jilatan anjing meski di basuh sebanyak 7 kali, satu kali di antaranya dengan tanah. Imamiyah berkata: bejana yang di jilat anjing harus dibasuh sekali dengan tanah dan 2 kali dengan air.

b) Babi: Semua mazhab berpendapat bahwa hukumnya sama seperti anjing, kecuali mazhab Imamiyah yang mewajibkan membasuh bejana yang terkena babi sebanyak 7 kali dengan air. Begitu uga hukumnya dengan bangkai tikus darat (yang besar).

c) Bangkai: Semua mazhab sepakat bahwa bangkai bintang darat selain manusia adalah najis jika pada binatang itu keluar darah yang mengalir. Adapun bangkai manusia Maliki, Syafi’i dan Hambali mengatakan suci. Hanafi berpendapat bahwa bangkai manusia itu najis, dan yang terkena dapat menyucikannya dengan mandi.

d) Darah: Semua mazhab sepakat darah adalah najis kecuali darah orang yang mati syahid, selama darah itu berada di atas jasadnya. Begitu juga dengan darah yang tertinggal pada persembelihan, darah ikan, darah kutu, dan darah kepinding (tetinggi).

e) Mani: Maliki dan Hanafi berpendapat bahwa mani anak adam adalah suci, begitu juga dengan semua binatang selain anjing dan babi. Hambali berpendapat mani anak adam dan mani binatang yang dagingnya dimakan adalah suci, tetapi mani binatang yang dagingnya tidak dimakan adalah najis.

f) Nanah: Keempat mazhab sepakat bahwa nanah adalah hukumnya najis.

g) Kencing: Semua mazhab sepakat Air kencing dan kotoran anak adam adalah najis.

h) Sisa binatang: Ada 2 kelompok binatang, yaitu terbang dan tidak terbang, dan masing-masingnya dibagi 2 juga yaitu yang dagingnya dimakan dan tidak dimakan. Kelompok binatang terbang yang dagingnya tidak dimakan misalnya burung ring dan elang (Maliki menghalalkan keduanya dimakan). Binatang tidak terbang yang dagingnya dimakan misalnya lembu dan kambing dan yang dagingnya tidak dimakan misalnya serigala dan kucing (Maliki menghalalkan keduanya untuk dimakan). Ada beberapa pendapat dari masing-masing mazhab tentang sisa binatang-binatang tersebut. Syafi’i berkata: semua sisa termasuk kotoran merpati, burung ciak dan ayam, hukumnya najis. Kotoran unta dan kotoran kambing najis, kotoran kuda, bagal dan lembu semua najis.
Hanafi berkata: sisa-sisa binatang yang tidak terbang seperti unta dan kambing adalah najis. Adapun binatang terbang jika ia buang air besar di udara, seperti merpati dan burung ciak sisanya suci, jika buang air besar di bumi seperti ayam dan angsa maka sisanya najis.
Hambali dan Syafi’i berkata: sisa-sisa binatang yang dagingnya dimakan hukumnya suci, sedangkan sisa-sisa binatang yang darah dan dagingnya tidak dimakan hukumnya najis, baik yang terbang maupun tidak.

i) Benda cair yang memabukkan: adalah najis menurut semua mazhab , tetapi imamiyah menambahkan satu ketentuan, bahwa benda cair tersebut asalnya cair. Hal ini dimaksudkan agar tidak upaya menjadikan benda benda yang memabukkan yang cair di ubah menjadi beku untuk menghindari hukum najisnya, yang padahal hukumnya tetap najis.
j) Muntah: hukumya najis menurut empat mazhab.

k) Madzi dan wadzi: keduanya najis menurut Syafi’i, Maliki dan Hanafi. Hambali berpendapat madzi suci sedangkan wadzi najis. Madzi adalah yang keluar dari lubang depan ketika ada rangsangan seksual dan wadzi adalah air amis yang keluar setelah kencing atau dalam kondisi capek.

ustadzah. Nurhayati, Lc