Bukti Cinta Kita Kapada Rasulullah

ustadz. Yusuf Shidiq, S.Ag

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

Hadirin jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah … .
Alhamdulilah puji serta syukur senantiasa milik Allah swt atas segala limpahan karunia, rahmat, nikmat serta hidayahnya, sehingga pada kesempatan siang ini kita masih bisa melaksanakan salah satu kewajiban kita yaitu melaksanakan Ibadah Jum’ah.
Shalawat serta salam senantiasa kepada Nabi kita Muhaammd saw, para sahabat, tabi’in hingga kepada kita yang senantiasa mengamalkan sunnah-sunnah-nya.
Pada kesempatan Jum’at yang penuh dengan keberkahan ini khatib mengajak agar senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah sw, karena dengan keimanan dan ketaqwaan merupakan sebaik-baik bekal, baik untuk kemaslahatan dunia ataupun Akhirat.

Hadirin jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah … .
Adakah yang tidak mengenal sosok Muhammad SAW Yang mampu mengubah peradaban jahiliyyah kepada peradaban yang gemilang? Tentu saja kita semua tahu sosok Muhammad SAW, bahkan seorang keturunan Yahudi Michael H Hart Menempatkan Rasulullah Muhammad Sebagai orang nomor 1 yang berpengaruh di Dunia. Artinya semua orang mengetahui tentang Nabi kita Muhammad.

Muhammad SAW Merupakan Rasul yang agung, yang karena keagungan dan keluhuran akhlaknya maka beliau adalah Uswah Hasanah / Suri tauladan yang baik bagi kita semua. Oleh karena itu sudah sepantasnya kita senantiasa menjadikan Rasulullah sebagai Teladan. Rasulullah SAW sebagai Uswah Hasanah / Suri tauladan yang baik bukan atas penetapan sekelompok orang atau golongan.

Akan tetapi beliau menjadi uswatun hasanah atas ketetapan Allah SWT, sebagaimana Allah berrfirman :
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(Q.S AlAhzab 33:21)
Dengan demikian, menjadi kewajiban kita untuk menempatkan sepenuhnya cinta kepada Rasulullah setelah cinta kita kepada Allah.

Adakah orang lain yang lebih kita cintai selain Rasulullah setelah Allah?

Jawabannya haruslah tidak ada. Karena mencintai Allah & Rasulullah harus lebih dari apapun, bahkan hal tersebut merupakan sebagai barometer keimanan seseorang, Nabi Bersabda :
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Seseorang tidaklah beriman (dengan sempurna, peny) hingga aku lebih dicintainya dari anak dan orang tuanya serta manusia seluruhnya

Lalu Bagaimanakah bukti cinta kita kepada Rasulllah??

Pertama, Mentaati dan Mengikuti Sunnah Rasulullah
Bukti kecintaan kita kepada Rasulullah yang pertama adalah dengan mentaati dan mengikuti Sunnah Rasulullah SAW, Dalam Al-Qur-an, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk mentaati Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ…..
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya…” [An-Nisaa’: 59]
Ayat di atas memberikan pegajaran kepada kita agar taat kepada Allah serta kepada Rasulullah, dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.” (An-Nisaa’: 13)

Ketika kita mentaati dan mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam, maka selamnya kita tidak akan tersesat, karena Sunnah Nabi merupakan bagian dari sumber rujukan Utama, jalan keselamatan, pedoman hidup Ummat Islam setelah Al-Qur’an, sebagaimana Nabi bersabda:
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا، كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ.
“Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan sesat selama-lamanya yaitu: Kitabullah dan sunnah NabiNya”. (Hadist Riwayat Malik secara mursal (Al-Muwatha, juz 2, hal. 999).

Lalu apa konsekuensi apabila kita tidak taat atau ikut sunnah Nabi?

Dalam sebuah hadis Nabi bersabda yang Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
Artinya:
“Setiap umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan. Mereka (para sahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan masuk surga itu?’ beliau menjawab, “Siapa yang mentaatiku ia masuk surga dan siapa yang mendurhakaiku suggu ia telah enggan masuk surga.”(HR. Al-Bukhari)

Setiap orang pasti menginginkan Masuk Surga. Bahkan seorang penjahat, pelaku maksiat pun dalam hati kecil nya kalau ditanya “maukah mau surga”, pasti jawabnnya “mau”. Akan tetapi Rasulullah Menggambarkan dalam hadis di atas, bahwasannya ada orang yang enggan / menolak untuk masuk Syurga.

Siapakah yang enggan/,menolak masuk syurga?
Setiap Ummat Nabi Muhammad termasuk kita, yang mentaati perintahnya serta mengikuti Sunnah nya maka pasti akan Masuk Syurga. Sedangkan barang siapa yang tidak mentaati Rasulullah, tidak mengikuti Sunnah nya, menolak ajarannya maka dialah orang yang enggan / menolak masuk Syurga.

Maka dari pada itu, marilah kita terus Istiqomah mengamalkan seluruh Syariah / ajaran yang dibawa Oleh Rasulullah Muhammad SAW. Karena pada Hakikatnya, Mentaati Rasulullah sama dengan telah Mentaati Allah. Allah Berfirman :
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
Artinya:
“Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.” (QS. Al-Nisa’: 80)
Dan Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan kecintaan seorang hamba kepada Allah Azza wa Jalla, sebagaimana firman Allah :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya:
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S Ali Imran:31)
Kedua, Meneladani Akhlak Rasulullah
Untuk meneladani dan mengikuti Akhlak Rasulullah, maka perlu kita mengetahui keagungan pribadi rasulullah SAW, dengan mengenal dan mengetahui semoga terpacu untuk berakhlak dan berperilaku seperti akhlah Baginda Nabi SAW.

Rasulullah adalah orang yang paling bertaqwa dan takut kepada Allah. Selain itu Rasulullah Saw memiliki akhlak yang mulia. Rasulullah mengubah peradaban Jahiliyyah yang terbelakang menjadi peradaban yang maju selain atas bimbingan wahyu dari Allah, juga karena kemulian Akhlak beliau. Allah menegaskan tentang keagungan Akhlak Rasulullah Saw :
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya:
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS.Al-Qalam:4)
Lalu seperti apakah Akhlak Rasulullah yang mulia itu?
Anas bin Malik Radiyallahu Anhu menceritakan bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang sangat baik akhlaknya. Setiap kali ada yang bertanya beliau selalu memasang telinganya untuk mendengarkannya, setiap kali ada yang mengulurkan tangannya untuk bersalaman beliau selalu menyambutnya, dan beliau tidak melepaskan tangan beliau sampai orang itu sendiri yang melepaskannya. Rasulullah adalah pribadi yang sangat penyabar dalam menghadapi setiap sakit atau derita yang menimpanya.

Rasulullah tidak pernah berkata kasar, mengeluh atau mengucapkan kata-kata yang tidak enak di dengar, dermawan, jujur, amanah, memuliakan anak yatim.
Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
Hisyam bin Amr pernah bertanya kepada Aisyah RA mengenai Akhlak Rasulullah SAW, maka Aisyah Menjawab : “Akhlak Nabi adalah Al-Qur’an” (HR Muslim).
Jawaban yang sangat singkat akan tetapi syarat makna. Sungguh Aisyah ini benar-benar memberikan jawaban yang luara biasa, ia mensifati Rasulullah dengan satu sifat;akhlak yaitu Al-Qur;an yang dapat mewakili semua akhlak Rasulullah.

Apakah Contoh Akhlak Nabi yang sesuai dengan Al-Qur’an?

Ketika kita akan menyebutkan akhlak apa yang sesuai dengan Al-Qur’an, tentu saja akan membutuhkan jawaban berpuluh-puluh bahkan berates-ratus lembar untuk menuliskannya, maka mari kita lihat contoh kecil saja dari akhlak Rasulullah yang sesuai dengan Al-Qur’an, diantaranya ;
Akhlak nabi dengan keluarganya.
dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda :
“ sebaik-baik diantara kalian adalah yang terbaik kepada keluarganya, dan aku adalah sebaik-baik diantara kamu terhadap keluargaku” (HR Tirmidzi).
Rasulullah adalah oarng yang sangat lembut dan penuh kasih saying kepada keluarganya. Rasulullah SAW sangatlah tawadhu; rendah diri dihadapan istri-istrinya, sampai-sampai beliau membantu pekerjaan rumah tangga ditengah kesibukan menyampaikan risalah Allah. Rasulullah pun tetap santun saat dalam kondisi mara sekalipun. itulah diantara akhlak Rasulullah kepada keluarganya.
Akhlak nabi terhadap Kaum Muslimin.
Rasulullah juga adalah pribadai yang penyayang terhadap orang-orang yang beriman, Allah berfirman :
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin (At-Taubah 09:128).
Akhlak nabi terhadap musuh-Musuh Allah.
Rasulullah bersikap keras terhadap Musuh-musuh Allah :
أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ…….
….yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir….. (Al-Maidah 05:54)
Akhlak nabi ketika berdakwah.
Metode dakwah yang dilakukan oleh Nabi adalah yang terbaik, terbukti dalam waktu yang relative singkat mampu mengubah peradaban jahiliyyah dengan peradaban Islam. Dakwah yang dilakukan oleh Nabi sangat bijaksana dan lemah lembuh, mengajak dengan hikmah, pelajaran yang baik serta berdialog dengan cara yang ahsan;baik. Allah berfirman :
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (An-Nahl : 125).

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}. ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.

Pada khutbah yang kedua ini, marilah kita akhiri dengan bermunajat kepada Allah swt, mudah-mudahan kita senantiasa diberikan hidayah dan taufik oleh Allah swt untuk senantiasa istiqamah menjalankan sunnah-sunnah rasulullah saw dan mampu meneladani semua Akhlaknya, Allahumma Amien… .

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالـْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْـمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِينَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْـمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكانٍ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَدُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ. اللَّهُمَّ أَرِنَا الْـحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا اْلبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْلَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْـمُرْسَلينَ وَالْـحَمْدُ لِلهِ ربِّ الْعَالَمِينَ.