MENJAGA PERSATUAN

بسم الله الرحمن الرحيم
MENJAGA PERSATUAN
@KangGuru

Tugas utama para Nabi dan para Rosul itu ternyata hanya dua; *Menegakkan Agama dan menjaga persatuan* hal itu terekam dalam firman Alloh taala surat Asy Syuro ayat 13;

Allah SWT berfirman:

شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّينِ مَا وَصّٰى بِهِۦ نُوحًا وَالَّذِىٓ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِۦٓ إِبْرٰهِيمَ وَمُوسٰى وَعِيسٰىٓ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ اللَّهُ يَجْتَبِىٓ إِلَيْهِ مَنْ يَشَآءُ وَيَهْدِىٓ إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ
syaro’a lakum minad-diini maa washshoo bihii nuuhaw wallaziii auhainaaa ilaika wa maa washshoinaa bihiii ibroohiima wa muusaa wa ‘iisaaa an aqiimud-diina wa laa tatafarroquu fiih, kaburo ‘alal-musyrikiina maa tad’uuhum ilaiih, allohu yajtabiii ilaihi may yasyaaa`u wa yahdiii ilaihi may yuniib

“Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ‘Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 13)

Ayat ini menepis anggapan bahwa Islam adalah sumber perpecahan bahkan justru sebaliknya ayat ini menegaskan bahwa Islam sangat mendorong persatuan

Formulasi persatuan yang di tawarkan Islam sangatlah unik, secara umum memang Islam mendorong untuk menjaga hubungan kemanusiaan dengan siapapun dan dimanapun , Al Qur’an menyebutnya dengan istilah *Hablum minannas* yang mana konsep Hablum minannas ini penegasan bahwa orang Islam harus menjaga hubungan baik dengan siapapun, dimanapaun dan kapanpun agar tidak terjebak dalam kehinaan dan kenestapaan

Allah SWT berfirman:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوٓا إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَآءُو بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۚ ذٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِئَايٰتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنۢبِيَآءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ
dhuribat ‘alaihimuz-zillatu aina maa suqifuuu illaa bihablim minallohi wa hablim minan-naasi wa baaa`uu bighodhobim minallohi wa dhuribat ‘alaihimul-maskanah, zaalika bi`annahum kaanuu yakfuruuna bi`aayaatillaahi wa yaqtuluunal-ambiyaaa`a bighoiri haqq, zaalika bimaa ‘ashow wa kaanuu ya’taduun

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka mendapat murka dari Allah dan (selalu) diliputi kesengsaraan. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi, tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 112)

Nilai nilai kemanusiaan inilah seakan sudah cukup menjadi perhatian semua pihak untuk saling menjaga agar tidak melakukan keburukan, kerusakan dan memprovokasi ditengah tengah kehidupan bermasyarakat

*’Alaqoh insaniyyah* atau hubungan kemanusiaan inilah yang di tekankan pada surat Al Hujurot ayat 13 yang targetnya adalah *Li ta’arofuu* saling mengenal sebagai gerbang awal menuju *tafahum* ( saling memahami ) dan *takaful* ( saling bantu membantu )

Allah SWT berfirman:

يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَأُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقٰىكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
yaaa ayyuhan-naasu innaa kholaqnaakum min zakariw wa unsaa wa ja’alnaakum syu’uubaw wa qobaaa`ila lita’aarofuu, inna akromakum ‘indallohi atqookum, innalloha ‘aliimun khobiir

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 13)

Akan tetapi jika di perhatikan term *Persaudaraan atau persatuan* maka kita akan mendapatkan semuanya itu berkisar pada tema keimanan, sebagai contoh;

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
innamal-mu`minuuna ikhwatun fa ashlihuu baina akhowaikum wattaqulloha la’allakum tur-hamuun

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 10)

Allah SWT berfirman:

الْأَخِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
al-akhillaaa`u yauma`izim ba’dhuhum liba’dhin ‘aduwwun illal-muttaqiin

“Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.”
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 67)

Maka semua ini menekankan bahwa menjalin persaudaraan bukan hanya sebatas hubungan biasa atau hubungan kemanusiaan yang sifatnya *ta’aruf* ( hanya kenal ) akan tetapi jika persatuannya ingin kokoh atau persaudaraannya ingin kuat dan langgeng maka harus dilandaskan pada keimanan, inilah yang dimaksudkan dengan *Alaaqoh imaaniyyah*

Dua pendekatan ini yang sangat harus di perhatikan oleh orang orang Islam, maka *Hablum minalloh* bisa kita tegaskan sebagai dasar dari *Alaqoh imaaniyyah* sedangkan *Hablum minannas* naas sebagai dasar *Alaaqoh insaniyyah*

Manakah yang akan di jadikan landasan kita dalam menjalin persaudaraan dan persatuan ? Maka jika ingin persatuan dan persaudaraan kita langgeng maka sangat disarankan jangan hanya sebatas hubungan kemanusiaan ( Hablum minannas ) akan tetapi setiap kita harus *meng upgrade* dari hubungan kemanusiaan menjadi hubungan keimanan karena keimanan lah yang akan melanggengkan persaudaraan kita hingga di akhirat kelak

Saya serukan *Mari jadikan ‘Alaqoh insaniyyah sebagai modal awal membina Alaqoh imaaniyyah*

Wallohu’alam ‘alam bish showab