HUKUM MAULID

Apa hukum maulid? pertanyaan yang sangat sering di dengar oleh kita setiap tahunnya, sebelum menjelaskan hukumnya sebaiknya kita memahami terlebih dahulu makna kata tersebut
Maulid, Maulud atau milad semua terambil dari akar kata yang sama yaitu wa-la-da ( ولد ) yang artinya lahir

Milad bentuk masdar Kata Maulid merupakan bentuk Mashdar Mim dari Fi’il Madhi (walada) yang berarti kelahiran.Kata Maulud merupakan bentuk Isim Maf’ul dari Fi’il Madhi (walada) yang berarti sesuatu yang dilahirkan.

Sedangkan kata Milad merupakan Isim Mashdar dari Fi’il Madhi yang sama.

Jadi kata Maulid memiliki arti waktu kelahiran atau tempat kelahiran

Dari kajian akar kata kita bisa memahami bahwa yang di maksud dengan memperingati maulid adalah memperingati kelahiran Nabi Muhammad shollalohu ‘alaihi wasallam maka jika ada pertanyaan apa hukumnya maulid? ini adalah pertanyaan yang aneh! masa mempertanyakan hukum kelahiran nabi muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam? karena kelahiran beliau adalah benar benar sebagai nikmat dan keutamaan yang sangat besar

Setiap muslim pasti sangat bahagia dengan lahirnya penutup para nabi dan rosul yang mulia yaitu nabi muhammad shollaohu ‘alaihi wasallam karena lahirnya beliau sebagai nikmat yang sempurna dan keutamaan dari Alloh taala yang sangat luar biasa sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat dalam Al Quran diantaranya;

Sebagai nikmat:
وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۙ لِئَلَّا يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِيْ وَلِاُتِمَّ نِعْمَتِيْ عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ

Dari mana pun engkau (Nabi Muhammad) keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arahnya agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu), kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku agar Aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu dan agar kamu mendapat petunjuk.
(Al-Baqarah [2]:150)

كَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلًا مِّنْكُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِنَا وَيُزَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَۗ

Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat kepadamu), Kami pun mengutus kepadamu seorang Rasul (Nabi Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (sunah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.
(Al-Baqarah [2]:151)

Sebagai sebuah fadhilah/keutamaan:
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ

Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
(Al-Jumu‘ah [62]:2)

وَّاٰخَرِيْنَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوْا بِهِمْۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُۙ

(Allah juga mengutus Nabi Muhammad) kepada (kaum) selain mereka yang belum (datang) menyusul mereka. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
(Al-Jumu‘ah [62]:3)

ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ

Itulah karunia Allah yang dianugerahkan kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah memiliki karunia yang besar.
(Al-Jumu‘ah [62]:4)

Hari kelahiran, hari kematian dan hari di bangkitkan diantara hari hari yang mendapatkan perhatian khusus dalam Al Quran sebagaimana yang disebutkan dalam surat Maryam ayat 15 dan 33 tentang Nabi Yahya dan Nabi Isa alaihimas salam;

وَسَلٰمٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوْتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا ࣖ

Kesejahteraan baginya (Yahya) pada hari dia dilahirkan, hari dia wafat, dan hari dia dibangkitkan hidup kembali.
(Maryam [19]:15)

وَالسَّلٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ وَيَوْمَ اَمُوْتُ وَيَوْمَ اُبْعَثُ حَيًّا

Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan hari aku dibangkitkan hidup (kembali).”
(Maryam [19]:33)

Banyak ragam sebagai bentuk syukur kita atas lahirnya penutup para nabi dan rosul, nabi yang agung nabi muhammad shollalohu ‘alaihi wasallam minimal dengan;
1. Bahagia dalam hati atas kelahirannya

2. Memperbanyak sholawat kepadanya

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ

Artinya:

“Barangsiapa yang bersholawat kepadaku satu kali maka Allah bersholawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

3. Mengkaji bentuk fisik dan penampilannya ( Shuroh) agar kita mengikuti penampilannya sebagaimana dalam kitab Asy Syamail imam At tirmidzi dan yang lainnya

4. Mengkaji perjuangan dakwahnya ( Sirah) sebagaimana dalam kita Ar Rakhiqil Makhtum karya Syeikh Shofiyyurohman almubaarok fuuri dan yang lainnya

5. Menghayati sarirotur rosul/rasa yang ada di dalam hati ( sariroh) nabi sholllaohu ‘alaihi wasallam yang sangat menyayangi ummatnya;

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.
(At-Taubah [9]:128)

6. Ittiba dan menghidupkan sunnahnya

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Āli ‘Imrān [3]:31)

Roaululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

((من أحيا سنة من سنتي فعمل بها الناس، كان له مثل أجر من عمل بها، لا ينقص من أجورهم شيئاً))

“Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun“ HR Ibnu Majah (no. 209)

7. Meneruskan misi kenabiannya

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ

(Demikian pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama.635) Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.
(Fāṭir [35]:28)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

Artinya: “Ulama adalah pewaris para nabi.” (H.R. At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda Radhiallahu ‘Anhu).

Maka sangat bijak jika kita mulai berhenti pada perdebatan kata tanpa arti dan tanpa aksi dengan mendukung dan fanatik maulid dengan makna sempit atau menolak berlebihan maulid sehingga menganggap bahwa maulid itu bid’ah.

Sudah saatnya kita lebih fokus pada substansinya yaitu meniatkan diri dan generasi yang lahir dari kita untuk mejadi pewaris dan penerus misi kenabian selanjutnya

wallohul muwaffiq ilaa aqwamit thoriq
aamiin

Close Menu