MASJID PUSAT PERADABAN

Oleh KangGuru. H. Uus Mauludin. MA

Muslim tanpa masjid adalah hal yang mustahil, karena masjid dalam kehidupan umat Islam adalah barometer keimanan seseorang dan barometer peradaban. Secara khusus hal itu ditegaskan dalam Al­Qur’an: “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, serta tetap melaksanakan sholat, menunaikan zakat, dan tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah, maka mudah-mudahan mereka termasuk orang orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah:18)

Imam lbnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat tersebut beliau menjeaskan ayat tersebut dengan menyebutkan sebuah hadits dari Abi Said Al khudriy radhiyallohu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam bersabda; “Jika engkau melihat seseoang yang senantiasa memakmurkan masjid maka saksikanlah bahwa dia adalah orang beriman.”( HR. At-Tirmidzi).

Adapun masjid dalam lintasan sejarah, maka kita akan temukan bahwa hal yang pertama dilakukan setelah Rasululloh shallallohu’alaihi wasallam hijrah dari Makkah ke Madinah adalah membangun masjid (Masjid Quba dan Masjid Nabawi). Syeikh Muhammad Al Ghazali sebagaimana disebutkan oleh Ustadz Said Hawa dalam Al-Asas fis Sunnah wafiqhuha As-siroh An­nabawiyyah bahwa membangun masjid merupakan pendeklarasian syiar Islam yang selama fase Makkah tak nampak, sehingga kaum muslimin secara bebas beribadah kepada Allah sehingga terbangun hubungan antara hamba dengan Tuhannya, hilanglah segala kotoran hati dan gemerlap dunia.

Lebih lanjut Dr. Musthofa As-Siba’i berpendapat bahwa dibangunnya masjid sedari awal ketika Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam hijrah hal ini menunjukkan bahwa masjid memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam, yang mana seluruh ibadah dalam Islam berfungsi mensucikan jiwa, memperindah akhlak, dan mengokohkan saling tolong-menolong sesama umat Islam sebagaimana hal itu tercermin sangat jelas dalam shalat berjama’ah, shalat Jumat dan shalat ied yang semua itu merupakan media konsolidasi, edukasi yang selanjutnya menjadi landasan gerak ekspansi umat Islam ke semua tempat seluruh penjuru dunia.

Lebih tegas lagi, syeikh Shafiyyurrahman Al­Mubarak Furiy menjelaskan dalam kitab Ar-Rakhiqul Makhtum bahwa masjid yang di bangun oleh Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam bukan hanya sebatas untuk shalat lima waktu akan tetapi masjid yang di bangun oleh Rasulullah shallallohu’alaihi wasallam layaknya sebuah kampus yang mana seluruh kaum muslimin dapat mengakses seluruh ilmu yang berkaitan dengan ajaran Islam, adapun mahasiswa yang sangat fokus mengkaji Islam secara terukur dan terstruktur (tafaqquh) pada waktu itu disebut dengan ahlus shuffah.

Pada periode selanjutnya kita akan menemukan bahwa universitas universitas Islam ternama sudah lahir jauh sebelum Oxford university yang baru berdiri tahun 1263  M, universitas universitas Islam tertua di jagad raya telah berdiri jauh sebelum kampus kampus Barat-Kristen ada seperti di Maroko ada Universitas Qorowiyyin berdiri tahun 859 M di inisiasi oleh mereka yang berasal dari Qoirowan (Tunisia), Universitas Al-Azhar berdiri sejak 969 M, universitas ini dibangun sejak zaman Dinasti Fathimiyyah, Universitas Sankore di Timbuktu Mali  berdiri tahun 989 M yang pada abad ke-12 saja jumlah mahasiswanya sudah mencapai 25 ribu walau penduduk Timbuktu waktu itu hanya 100 ribu jiwa. Dengan kata lain, Oxford university baru berdiri sementara Universitas Sankore sudah dipenuhi para mahasiswa dari berbagai kalangan.

Sejatinya universitas-universitas Islam tersebut bukanlah sebagai mana yang kita lihat hari ini. Akan tetapi, awalnya adalah masjid yang di dalamnya dibahas secara mendalam berbagai macam ilmu yang tidak hanya ilmu-ilmu “agama” akan tetapi bidang tata bahasa, logika, kedokteran, matematika, astronomi, kimia, sejarah, geografi dan yang lainnya. Data sejarah ini sekaligus menegaskan kepada kita bahwa dalam Islam tidak ada pemisahan antara masjid dan aktifitas keilmuan, antara masjid dan wilayah kemasyarakatan, tidak seperti apa yang didoktrinkan oleh sekulerisme yang mengharuskan pemisahan diantara keduanya secara paradoksal, Justru peradaban Islam menegaskan bahwa masjid adalah pusat peradaban.

Masjid Nabawi dan Masjid kita

Masjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam berorientasi pada pemakmuran bukan hanya pada fisik. Makmur oleh program mencerdaskan ummat Islam dengan iman, ilmu dan amal sementara kita sering terjebak hanya pada memperbagus bangunan fisik namun ketika shalat kosong dari jamaah dan sepi dari berbagai kajian Islam terstruktur dan terukur sehingga tak jelas peningkatan kapasitas ilmu kaum muslimin dari tahun ke tahun.

Masjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam kaya dengan ilmu sehingga menjadi mata air peradaban yang tak pernah kering. Sedangkan masjid kita belum makmur dengan kajian-kajian keislaman yang terukur dan terstruktur bahkan kerap kali terjebak dengan fanatisme figuritas atau kelompok tertentu, sehingga adanya masjid bukan semakin mencerahkan justru sering kali konflik bermula dari masjid.

Masjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam sekaligus sebagai pusat data  dalam bentuk survey sosial praktis dan berkala untuk melihat peta masyarakat baik dilihat dari apiliasi seseorang kepada Islam atau penolakannya terhadap Islam; siapa muslim, siapa munafiq atau siapa kafir?, siapa tamu dan siapa penduduk asli, siapa jamaah yang sehat dan siapa yang sakit, siapa jamaah yang sedang dalam kesulitan dan siapa yang sedang lapang dan berbagai lini kehidupan lainnya secara otomatis bisa dilihat progress dan dinamikanya di masjid karena basis datanya bisa terus di up date 5 kali dalam sehari semalam ketika sholat wajib dilaksanakan

Masjid adalah kampusnya kaum muslimin yang dari situ seluruh kaum muslimin mendapatkan pendidikan yang sama rata yang berorientasi bukan pada sehelai ijazah akan tetapi membangun peradaban umat manusia berdasarkan iman, ilmu dan amal Karena masjid wilayah publik yang bisa diakses siapapun, maka para pengurus masjid harus mampu memfasilitasi semua kalangan dan golongan sehingga terciptalah budaya cinta ilmu di seluruh lapisan masyarakat yang dengannya lahirlah manusia manusia beradab.

Memakmurkan masjid

Menjamurnya pembangunan masjid dan mushala di berbagai tempat khususnya di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah hal yang harus terus disyukuri bersama karena hal ini sebagai bukti pengamalan sila pertama Pancasila yaitu ketuhanan yang maha Esa yang mana Masjid berfungsi sebagai pusat memaha esakan Tuhan yang menjadi landasan utama sila sila berikutnya dalam Pancasila

Maka selain program memakmurkan masjid dengan shalat wajib berjamaah bagi kaum laki-laki, harus ada upaya bagaimana agar ilmu-ilmu standar keislaman terwariskan melalui masjid

Setidaknya ada 12 cabang ilmu yang harus dipelajari oleh seluruh kaum muslimin secara tuntas yaitu; 1. Tentang tiga pokok (Mengenal Allah, Rasul, Islam): 2. Tentang AI-Quran: 3. Tentang Sunnah; 4. IImu Aqidah; 5. Ilmu Fiqh; 6. Ushul Fiqih 7. IImu Akhlaq; 8. Kisah Para Nabi dan Rasul, Sirah Nabawiyyah dan sejarah peradaban: 9. Bahasa Arab: 10. Propaganda terhadap Islam; 11. Studi Islam kontemporer dan 12. Fiqh  Dakwah.

Selain meningkatkan kualitas kajian juga meningkatkan sinergi di antara para pengurus masjid dan pengurus musholla  secara praktis bisa membagi cabang­cabang ilmu tersebut di masjid dan mushalla yang ada di wilayah itu, misal masjid Al-Barkah kampung salagedang atau perum blok A kajiannya khusus tentang ushulust tsalasah, masjid Ar-Rahmah kampung Andir atau perum blok B kajian khusus tentang Al­Quran; Masjid Al-Muhajirin kampung Lempong atau perum blok C kajiannya khusus tentang Hadits dan seterusnya sehingga masyarakat mudah mengakses ilmu-ilmu tersebut dan langsung berguru kepada para ahlinya karena seluruh pengurus dan para tokoh masjid dan musholla telah sepakat dengan peta dan pola pembinaan dan kaderisasi yang akan dilakukan dan bagi para jamaah sangat memudahkan datang ke masjid yang sudah disepakati bersama Ketika akan mengkaji ilmu tersebut. Sisi positif lainnya adalah kita akan bisa menjawab dengan mudah berapa ulama Al-Qur’an yang akan lahir 5 tahun ke depan dari masjid/mushalla tersebut, berapa ulama hadits yang akan lahir 5 tahun ke depan dan seterusnya sehingga kita yakin bahwa proses kaderisasi terus berjalan dengan baik di tubuh umat Islam dari generasi ke generasi.

Dengan jelasnya peta seperti itu akan membantu secara otomatis mengarahkan para muzakki dan para aghniya untuk mendonasikan hartanya bukan hanya membangun fisik akan tetapi melakukan mengokohkan spiritual, memberatas buta huruf dan buta hidup, menjamin seluruh jamaah dan orang orang yang ada di sekitar masjid tidak kelaparan dan terjaganya kemanan dan statbilitas sosial yang semua itu dilakukan secara sinergis, terstruktur, terukur, terprogram dan terarah yang semoga dengan itu kita suksesberkah dunia akhirat aamiin

Wallahu’alam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Close Menu